Memoir 5 Tahun Terakhir
Ini adalah cerita tentang life update aku selama beberapa tahun terakhir, yang bertujuan untuk dijadikan kenangan agar bisa diingat kembali. Mungkin bagi para pembaca yang ingin mengetahui cerita kehidupan orang lain, kisah ini bisa menjadi hal yang cukup menarik—setidaknya sebagai pemuas rasa keingintahuan semata.
Halo, aku Natul. Seorang Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Istanbul, Turki. Awalnya aku datang ke sini untuk menempuh pendidikan S1 melalui beasiswa dari pemerintah Turki, dengan jurusan Ilmu Komunikasi di Istanbul University. Namun sekarang, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta milik Ukraina yang juga berlokasi di Istanbul, Turki.
Sebenarnya aku tidak tahu harus mulai dari mana ceritanya. Tapi mari kita mulai beberapa bulan sebelum kuliahku selesai.
– awal tahun 2021 –
Pada saat itu, virus corona masih melanda. Perintah lockdown masih sering diberlakukan oleh pemerintah Turki. Sejak tahun 2020 hingga saat itu, seluruh perkuliahanku dilakukan secara daring karena wabah corona masih merebak. Sebenarnya aku cukup menyukai kuliah online ini, karena saat musim dingin aku tidak perlu keluar asrama pagi-pagi buta dan merasakan dinginnya cuaca yang suhunya kadang berada di bawah 0 derajat Celsius.
Akan tetapi, saat musim ujian, para mahasiswa—terutama aku—merasa sangat dipersulit. Ujian dilakukan secara online, dan dosen memberikan soal pilihan ganda yang cukup sulit dengan waktu yang sangat singkat. Aku paham mungkin kebijakan ini diterapkan agar tidak ada celah bagi mahasiswa untuk menyontek, tetapi waktu yang diberikan benar-benar tidak masuk akal. Soalnya berjumlah 15, tetapi waktu menjawabnya hanya 10 menit. Padahal, untuk menganalisis satu soal saja kadang dibutuhkan waktu lebih dari satu menit.
Selain itu, soal ujian menggunakan bahasa Turki, yang merupakan bahasa keempat bagiku. Bayangkan saja kesulitan yang aku hadapi. Ditambah lagi, penilaian sepenuhnya ditentukan dari ujian saja. Dosen tidak memberikan tugas tambahan atau menilai kehadiran. Nilai semester hanya ditentukan dari ujian tengah semester dan ujian akhir. Dan sistem ujian online seperti ini berlaku selama tiga semester.
Lantas, bagaimana aku bisa mendapatkan nilai yang bagus? Untuk sekadar lolos dari semester ganjil ke genap saja sudah alhamdulillah. Ya mau bagaimana lagi, begitulah kesulitan yang harus aku hadapi.
Namun aku terus menguatkan diri. Di masa corona yang serba sulit saat itu, bisa bertahan hidup saja sudah patut disyukuri. Lagipula, aku berhasil menuntaskan seluruh mata kuliah, meskipun nilainya tidak sesuai harapan. Tapi ya tidak apa-apa.
Di masa yang sama, aku juga mulai menulis tugas akhir seperti skripsi. Untungnya, seluruh proses dilakukan secara online tanpa bimbingan tatap muka dengan dosen pembimbing. Aku menulis tugas akhir dengan tema dampak media sosial terhadap pemilu presiden di Indonesia tahun 2019. Skripsi ini bersifat kualitatif, dan seluruh data yang aku masukkan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini membuatku tidak terlalu kesulitan dalam penulisannya, karena aku hanya perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki.
Pada akhirnya, aku berhasil submit tugas akhir tersebut dan mendapatkan nilai BB. Nilai ini cukup membantuku, karena nilai ujianku sering kali kurang baik akibat waktu pengerjaan yang sangat terbatas. Akhirnya, di sistem platform kampus, aku dinyatakan lulus, meskipun IPK-ku tidak mencapai angka 3. Hal ini sebenarnya lumrah bagi mahasiswa di Turki dan juga pihak beasiswa. Pihak beasiswa menetapkan IPK minimal 2; jika di bawah itu, uang beasiswa akan dipotong. Untungnya, selama kuliah IPK-ku selalu berada di atas 2, bahkan hampir mendekati 3.
Semua itu terjadi bukan karena aku tidak belajar atau karena bodoh, melainkan karena aku terjebak dalam sistem yang membuatku kurang beruntung dan tidak bisa mendapatkan nilai sesuai ekspektasiku. Lagi-lagi aku menenangkan diri. Tidak apa-apa, yang penting di masa sulit ini aku masih bisa bertahan hidup.
Secara sistem, aku sudah dinyatakan lulus kuliah dan hanya tinggal menunggu ijazah keluar. Sayangnya, proses keluarnya ijazah cukup lama dan entah kapan bisa diambil. Aku hanya menunggu informasi dari grup WhatsApp kampus. Soal wisuda? Jangankan wisuda, lockdown saja masih diberlakukan di mana-mana.
Karena aku sudah lulus, kedua orang tuaku mulai bertanya tentang rencana ke depannya: apakah aku akan pulang ke Indonesia atau bagaimana. Dengan penuh percaya diri, aku menjawab bahwa aku ingin mencoba mencari kerja di sini terlebih dahulu. Toh, jika pulang ke Indonesia pun aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak punya koneksi di Jakarta, dan jika kembali ke kampung halaman di Sumatra Barat pun aku belum tahu ingin bekerja apa. Kalaupun ada tawaran pekerjaan, kemungkinan besar gajinya tidak sesuai harapan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan di Istanbul, selagi ikamet (surat izin tinggal) masih bisa diperpanjang.
– Pekerjaan setelah Wisuda –
Beberapa minggu setelah aku dinyatakan lulus, aku mendapatkan panggilan wawancara dari salah satu perusahaan. Lucunya, aku bahkan lupa pernah melamar di perusahaan itu karena saking banyaknya lamaran kerja yang aku kirim secara online. Akhirnya aku datang untuk wawancara, dan ternyata posisi yang ditawarkan adalah sebagai informan di sebuah gedung business center setinggi 41 lantai. Tempat kerjaku nantinya berada di lobi gedung tersebut. Setelah wawancara, aku dinyatakan lolos dan diminta untuk mulai bekerja dua hari setelahnya.
Tentu saja hatiku sangat gembira, karena akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan. Awalnya aku pikir pekerjaan ini akan cukup menyenangkan, dan gajinya pun sesuai untukku yang masih fresh graduate—ya, kira-kira UMR sedikit lebih tinggi pada tahun itu.
Di hari pertama masuk kerja, aku melihat di meja kerja informan ternyata sudah ada seorang perempuan yang juga bekerja sebagai informan. Namanya Pinar. Dia terlihat senang dengan kedatanganku karena selama ini ia harus mengerjakan semua tugas yang cukup rumit seorang diri. Pinar kemudian mengajariku dasar-dasar pekerjaan sebagai informan gedung. Aku pun merasa pekerjaan ini tidak terlalu berat.
Hari-hari berlalu, dan selama sekitar tiga minggu aku bekerja di sana, aku masih merasa senang karena aku dan Pinar menjadi tim yang saling membantu. Sampai akhirnya Pinar bermasalah dengan bos. Aku sendiri tidak tahu apa inti permasalahannya, tetapi pada akhirnya Pinar dipecat.
Setelah Pinar dipecat, semua pekerjaan dibebankan kepadaku seorang diri. Aku heran, mengapa bos tidak mencari pengganti? Mengapa aku dibiarkan bekerja sendirian? Aku sempat berpikir mungkin pihak manajemen gedung sedang melakukan efisiensi anggaran. Namun kenyataannya, aku sangat kewalahan bekerja sendiri. Aku harus berurusan dengan semua tamu yang masuk ke gedung, mulai dari tamu VIP hingga satpam dan kurir. Selain itu, aku juga harus melakukan entry data sambil melayani tamu yang membutuhkan informasi tentang gedung dan kantor-kantor di setiap lantai.
Semua itu harus aku kerjakan sendiri, dan kondisi tersebut membuatku sangat stres. Hampir setiap pulang kerja, aku sering menangis. Belum lagi kepala satpam di gedung itu yang bau ketiaknya sangat menyengat sampai menggangguku, dan sering ikut campur dalam pekerjaanku. Anehnya, justru bosku tidak pernah ikut campur atau memberi arahan, melainkan hanya sibuk mencari-cari kesalahanku. Selain itu, jam kerjaku juga diperpanjang oleh bos hingga dua jam lebih lama dari jadwal awal, tanpa adanya tambahan gaji.
Setelah kurang lebih lima bulan bertahan, aku sampai pada titik jenuh dan muak dengan rutinitas pekerjaan tersebut. Akhirnya, aku memutuskan untuk resign.
Aku berani resign karena aku dijanjikan pekerjaan oleh Pak Fatih. Dia adalah pria berbadan besar yang memiliki kantor di gedung tempat aku bekerja dan selalu menyapaku setiap kali melewati lobi. Ia memiliki istri orang Indonesia, itulah sebabnya ia bersikap ramah kepadaku. Awalnya, aku datang kepadanya untuk menceritakan keluhanku selama bekerja sebagai informan di gedung itu. Dengan penuh percaya diri, ia berkata, “Kamu jangan khawatir. Aku akan membuka kantor yang bergerak di bidang ekspor-impor Indonesia–Turki. Kamu bisa bekerja dengan saya nanti.”
Mendengar perkataannya, aku langsung merasa bahagia. Aku berpikir akhirnya aku bisa resign dengan tenang dari pekerjaan yang membosankan ini dan berpindah ke pekerjaan yang terdengar jauh lebih keren.
Setelah aku resign dari pekerjaan sebagai informan gedung, aku menunggu kabar dari Pak Fatih tentang kapan aku bisa mulai bekerja. Namun setelah satu bulan berlalu, ia masih belum memberikan kabar apa pun seperti yang dijanjikannya. Akhirnya aku menghubunginya sendiri. Jawabannya pun menggantung. Ia hanya berkata, “Oke, jangan khawatir. Kita mulai secepatnya.”
Tiga hari setelah itu, Pak Fatih kembali menghubungiku dan mengatakan bahwa ia ingin berkunjung ke KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia). Katanya, untuk memulai bisnis ini, perlu konsultasi dengan pihak KJRI yang akan menjembatani kerja sama tersebut. Mendengar hal itu, aku merasa senang dan menganggap bahwa kepastian tinggal selangkah lagi. Aku pun pergi ke KJRI sesuai dengan waktu yang ia tentukan.
Namun ketika aku tiba di KJRI, Pak Fatih belum datang. Aku menunggu sekitar satu jam sampai akhirnya ia datang bersama istrinya yang orang Indonesia itu. Mereka datang menggunakan kendaraan umum, bukan mobil pribadi ataupun taksi. Dalam hati aku bertanya-tanya, bukankah seharusnya dia punya mobil? Bukankah dia mengaku memiliki beberapa bisnis dan banyak koneksi, bahkan dengan pemerintah Turki? Mengapa ia tidak datang menggunakan taksi saja? Tapi aku mencoba berpikir positif—mungkin dia memang tipe orang yang low profile.
Kami bertiga masuk ke KJRI dan disambut oleh seorang diplomat bernama Pak Jefri. Aku duduk dan mendengarkan perbincangan mereka. Sejujurnya, pembicaraan itu terasa sangat ngalor-ngidul. Aku melihat ekspresi Pak Jefri yang seolah merasa diskusi ini kosong dan tidak memiliki arah. Aku pun merasakan hal yang sama. Entah apa sebenarnya rencana Pak Fatih. Topik pembicaraan beralih dari budaya Indonesia, pendidikan, kolaborasi pendidikan, hingga beasiswa. Tidak ada satu pun pembahasan konkret tentang rencana membuka bisnis ekspor-impor Indonesia–Turki yang seharusnya membutuhkan dukungan dari KJRI. Semakin lama, semakin terasa hampa.
Setelah pertemuan selesai, Pak Fatih tetap tidak memberikan kepastian apa pun kepadaku. Bahkan, ia terlihat kebingungan bersama istrinya saat mencari bus untuk pulang karena lokasi KJRI cukup sulit dijangkau oleh kendaraan umum. Aku sendiri memilih pulang menggunakan taksi. Dalam hatiku aku berpikir, bahkan aku saja mampu naik taksi, mengapa dia dan istrinya memilih naik bus yang harus menunggu lebih dari satu jam, padahal naik taksi ke stasiun terdekat mungkin hanya sekitar 80 TL—sekitar 120 ribu rupiah saat itu.
Di dalam taksi itulah aku memutuskan untuk berhenti berharap pada bapak berbadan besar itu. Aku sadar bahwa selama ini aku telah tertipu. Gayanya seperti pebisnis hebat dengan penampilan meyakinkan, mengaku punya banyak koneksi, padahal semua itu hanya omong kosong. Untuk apa aku terus berharap bisa bekerja di perusahaannya yang bahkan masih sebatas angan-angan? Kalau hanya angan-angan, semua orang juga bisa.
Pengalaman ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku. Aku bertemu dengan tipe manusia yang karakternya begitu ajaib. Bertambah lagi satu jenis manusia yang aku temui dalam hidupku. Ya sudahlah, mungkin ini bagian dari perjalanan hidup. Aku harus tetap bergerak maju.
Maaf di bagian ini aku sampai membawa fisik. Ini karena aku menuliskannya dengan sedikit emosi saat mengingat kenangan di masa itu. Tapi mari kita lanjutkan.
Beberapa waktu setelah kejadian meeting di KJRI itu, aku bekerja secara freelance. Kadang menjadi pemandu private, penerjemah, bahkan ikut casting. Yang penting, aku tetap punya kegiatan yang menghasilkan uang.
-Bekerja di Travel Agency-
Sebelum masuk ke cerita ini, bisa dibilang bekerja di travel tersebut benar-benar membuat aku makan hati. Sampai-sampai aku sempat demam dan batuk selama sebulan karena terlalu banyak memendam perasaan.
Suatu hari aku mendapat pesan dari Uni Ferline, seorang perempuan keturunan Cina–Padang yang sudah cukup lama aku kenal. Dia memiliki perusahaan operator travel di Turki. Kami saling mengenal sejak 2019, saat aku tampil di Festival Makanan Indonesia dan dia datang ke acara itu. Sejak saat itu dia mengikuti aku di Instagram.
Uni Ferline mengirim pesan menanyakan apakah aku punya kenalan orang Indonesia yang bisa membantu partner bisnisnya, Pak Öner, di kantor Istanbul. Dengan percaya diri aku membalas, “Ya sudah, Uni. Aku saja yang bantu Pak Öner di kantor.” Tak lama kemudian, Uni Ferline meneleponku. Dengan nada senang, dia menyambut kesediaanku untuk bergabung.
Selama ini dia memang sering menghubungiku, bahkan untuk hal-hal sepele yang sebenarnya bisa dia cari sendiri di Google. Entah karena dia senang bercerita denganku atau alasan lain, yang jelas saat itu dia senang karena aku mau masuk ke timnya.
Seminggu setelah percakapan itu, aku mulai masuk kantor dan bertemu dengan Öner Abi (dalam bahasa Turki, abi berarti abang). Di sana aku menegosiasikan gaji. Saat itu UMR Turki sekitar 4.300 TL, lalu Öner Abi menawariku gaji 5.000 TL dan aku menyetujuinya. Dia mengatakan bahwa beberapa kali dalam sebulan aku akan diminta ikut mendampingi grup turis, dan dari situ aku bisa mendapatkan komisi tambahan jika tamu banyak berbelanja.
Aku merasa senang karena berpikir bisa mendapatkan uang tambahan di luar gaji pokok. Aku pun mulai bekerja dengan sungguh-sungguh, belajar pelan-pelan bagaimana bisnis dan pekerjaan ini berjalan. Beberapa minggu kemudian, grup-grup turis mulai berdatangan. Saat itu kebetulan musim Lebaran, dan ada beberapa grup yang datang bersamaan. Uni Ferline juga ikut dalam rombongan karena tiga grup tersebut berasal dari Padang.
Aku diminta Öner Abi untuk ikut salah satu grup, bukan grup dari Padang, melainkan satu keluarga besar asal Jakarta. Aku datang ke bandara pagi-pagi sekali dan bertemu dengan tour guide lokal yang akan memandu grup ini.
Setelah bertemu dengan para tamu, kami bergegas menuju bus. Di dalam bus, tour guide tersebut memperkenalkan dirinya dengan cara yang sangat membosankan. Sepanjang perjalanan dari bandara, dia memegang mikrofon dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan intonasi datar yang membuat tamu-tamu terlihat jenuh.
Padahal sebenarnya aku diminta oleh Öner Abi untuk bergabung sebagai penerjemah sekaligus mencairkan suasana (tour Leader), tetapi tour guide itu tidak memberiku kesempatan untuk memegang mikrofon.
Destinasi pertama kami adalah Taman Tulip, lalu ke kawasan Hagia Sophia, Istana Topkapı, dan Blue Mosque, kemudian makan siang di restoran Indonesia di sekitar area tersebut. Sepanjang perjalanan hari itu, tour guide tersebut sering melakukan tindakan verbal yang membuat tamu-tamu tersinggung dan tidak nyaman. Dia tidak mengizinkan tamu-tamu berkeliling bebas untuk berfoto dan memaksa mereka terus mendengarkan penjelasannya yang panjang dan membosankan.
Salah satu tamu berbisik kepadaku,
“Kenapa sih pemandunya seperti ini? Sudah jelek, kusut, membosankan, sok ngatur lagi.”
Aku spontan menjawab,
“Ya, Bu, yang dipilih oleh bos kebetulan yang ini.”
Sore harinya, setibanya di hotel, kami bertemu dengan grup lain dan di sana aku bertemu kembali dengan Uni Ferline. Yang sebelumnya hanya berteman biasa, kini dia berstatus sebagai atasan aku. Tamu-tamu yang bersamaku tadi memperhatikan pemandu dari grup lain, lalu salah satu dari mereka mendatangiku dan berkata,
“Kenapa kamu memilihkan pemandu yang buruk untuk kami? Kami mau ganti.”
Kebetulan Uni Ferline berada di sampingku, jadi aku langsung meminta tamu tersebut menyampaikan keluhannya langsung kepadanya. Uni Ferline kemudian menghubungi Öner Abi untuk mencari solusi. Sayangnya, tidak ada tour guide lain yang bisa menggantikan saat itu. Akhirnya, Öner Abi sendiri yang turun tangan menjadi pemandu, meskipun dia tidak memiliki lisensi resmi sebagai tour guide profesional. Namun karena situasinya mendesak, tidak ada pilihan lain.
Selama kurang lebih tujuh hari, aku, Öner Abi, dan sembilan orang tamu tersebut berkeliling ke berbagai kota di Turki. Mereka cukup banyak berbelanja, mulai dari oleh-oleh makanan hingga pakaian dan jaket kulit. Aku berpikir, “Wah, asyik juga. Paling tidak aku bisa dapat komisi sekitar 1,5–2 persen.” Bagi aku, jumlah itu cukup besar.
Setelah tur berakhir, aku kembali bekerja seperti biasa di kantor. Uni Ferline masih tinggal di Istanbul karena ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan. Setelah semua pembukuan dengan para pemandu selesai, aku baru menyadari bahwa aku tidak mendapatkan komisi apa pun. Aku hanya menerima 5.000 TL, yaitu gaji pokokku setelah sebulan bekerja.
Aku kecewa. Mana komisi yang dijanjikan itu? Padahal aku sudah bekerja keras menghibur tamu-tamu sepanjang perjalanan agar mereka nyaman dan senang berbelanja. Aku menanyakan hal ini kepada Uni Ferline, tetapi dia justru melempar tanggung jawab ke Öner Abi dan menyuruhku menanyakan langsung kepadanya.
Hatiku sangat kecewa. Setidaknya, jika memang tidak bisa memberi komisi karena alasan operasional, seharusnya aku diberi uang tambahan. Selama perjalanan itu, aku bukan hanya menjadi penerjemah, tapi juga bertindak sebagai tour guide, stand-up comedian, instruktur senam, bahkan biduan demi menghibur tamu. Namun aku tidak mendapatkan tambahan satu lira pun, hanya gaji pokok yang sedikit di atas UMR—yang memang hakku.
Aku sempat berpikir untuk keluar dari pekerjaan itu. Namun setelah dipikir ulang, aku memutuskan tetap bertahan karena saat itu aku benar-benar membutuhkan uang. Aku sempat beberapa bulan tidak memiliki pekerjaan tetap dan tabunganku mulai menipis. Dengan berat hati dan rasa dongkol, aku melanjutkan pekerjaan di travel tersebut.
Suatu hari, aku diajak Öner Abi dan Uni Ferline untuk makan malam di tepi laut Büyükçekmece. Öner Abi juga membawa pacarnya. Malam itu kami pergi menggunakan mobil Öner Abi. Uni Ferline terlihat sangat antusias karena restoran yang akan kami datangi memiliki live music. Dia bahkan menyempatkan diri ke salon untuk menata rambut agar tampil maksimal malam itu.
Namun, baru saja masuk ke dalam mobil, Öner Abi langsung membahas urusan pekerjaan. Ada masalah terkait pembayaran dari customer. Padahal suasana saat itu sama sekali tidak tepat untuk membicarakan hal tersebut. Perbincangan berubah menjadi debat, dan Öner Abi mulai menghardik Uni Ferline di depan aku dan pacarnya. Hal itu langsung membuat Uni Ferline bad mood dan memilih diam.
Sesampainya di restoran, Uni Ferline masih terlihat kesal. Sementara itu, Öner Abi berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan lelucon—yang sejujurnya tidak lucu sama sekali. Aku juga mencoba membujuk Uni Ferline agar menikmati makan malam dan suasana di sana, tetapi dia tetap marah dan tidak bergeming.
Öner Abi yang kesabarannya mulai habis—ditambah keduanya sudah banyak minum rakı—akhirnya terpancing emosi. Uni Ferline mulai marah-marah di meja makan dan berkata dengan nada tinggi,
“Ya sudah, kita selesaikan saja bisnis ini. Saya tidak mau sama kamu lagi.”
Setelah itu, Uni Ferline bangkit dan pergi meninggalkan restoran. Aku langsung mengejarnya. Dalam keadaan mabuk, dia duduk di pinggir jalan. Tak lama kemudian, Öner Abi dan pacarnya datang dengan mobil, turun, dan mencoba membujuk Uni Ferline agar masuk ke mobil. Namun Uni Ferline menolak dan malah memukul badan Öner Abi beberapa kali.
Kesabaran Öner Abi habis. Tanpa pikir panjang, dia menampar pipi Uni Ferline dengan keras hingga Uni Ferline terjatuh ke tanah. Aku benar-benar syok. Aku tidak menyangka dia tega memukul seorang perempuan, apalagi partner bisnisnya sendiri.
Aku merasa sangat kasihan kepada Uni Ferline. Aku membantunya berdiri dan berjalan perlahan. Aku berkata kepadanya,
“Ayo, Uni. Masuk saja ke mobil. Kita pulang ke kantor.”
(Di kantor memang ada kamar khusus untuk Uni Ferline menginap setiap kali dia ke Istanbul.)
Sesampainya di kantor, Uni Ferline langsung masuk ke kamar. Öner Abi dan pacarnya duduk sebentar di ruang tamu sambil minum teh. Dari raut wajahnya, terlihat bahwa Öner Abi sedikit menyesali apa yang baru saja terjadi, meskipun semuanya sudah terlanjur. Setelah itu, mereka pergi. Aku diminta untuk tetap tinggal dan akhirnya tidur di sofa ruang tamu kantor.
Malam itu aku sempat berpikir untuk kabur saja dan tidak kembali bekerja sama mereka. Aku sudah tidak mendapatkan komisi, lalu harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan oleh Öner Abi. Jika kepada partner bisnisnya saja dia bisa berbuat seperti itu, apalagi kepadaku. Namun niat itu aku urungkan. Aku teringat Uni Ferline, yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Lagipula, kami berasal dari daerah yang sama. Karena itu aku memilih tetap tinggal dan tidak pergi begitu saja.
Keesokan paginya, seolah-olah Uni Ferline lupa kejadian malam sebelumnya. Dia bertanya kepadaku,
“Natul, Öner Abi menampar saya ya?”
Aku terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya aku mengatakan bahwa Öner Abi hanya menepis karena Uni sedang mabuk. Aku takut jika menceritakan yang sebenarnya, konflik mereka justru akan semakin besar. Karena itu aku memilih menyembunyikan kenyataan.
Hari-hari berlalu, dan akhirnya Uni Ferline kembali ke Indonesia. Sebenarnya masih banyak drama dan masalah sebelum kepulangannya—termasuk kecemburuan pacar Öner Abi terhadap Uni Ferline dan berbagai konflik lainnya. Namun semua itu aku persingkat saja.
Bulan berikutnya, aku kembali diminta ikut mendampingi grup tur. Kali ini aku bersama Serkan Abi, tour guide yang juga sahabat Öner Abi. Dia terlihat lebih stylish dan lebih muda, mungkin karena belum menikah. Aku tidak terlalu berharap banyak. Aku berpikir kemungkinan besar aku juga tidak akan mendapatkan uang tambahan atau komisi. Jadi aku mengikuti tur ini tanpa semangat berlebih dan menganggapnya sebagai liburan musim panas gratis.
Namun ternyata, di akhir tur, Serkan Abi memberiku sebuah amplop berisi 3.800 lira. Hatiku sangat senang. Akhirnya, dari pekerjaan ini aku benar-benar mendapatkan uang tambahan. Padahal, meskipun grup ini cukup besar, mereka tidak terlalu banyak berbelanja. Namun Serkan Abi tetap mau berbagi komisinya denganku.
Aku tidak memberi tahu Öner Abi soal komisi ini. Aku khawatir jika dia tahu, gajiku akan dipotong dengan alasan aku sudah mendapatkan uang tambahan dari Serkan Abi. Meskipun mereka bersahabat, karakter mereka sangat berbeda. Serkan Abi jauh lebih rapi, terorganisir, dan—yang paling penting—lebih baik hati.
Hari demi hari berlalu. Musim panas tiba, dan itu berarti jumlah turis Indonesia semakin menurun. Pada bulan Juni 2022 hanya ada dua grup yang datang, dan pada bulan Juli hanya satu grup. Otomatis keuntungan perusahaan menipis dan hanya cukup untuk menutup biaya operasional. Pekerjaanku di bagian administrasi pun berkurang drastis, bahkan nyaris tidak ada. Aku datang ke kantor hanya untuk duduk dan bermain ponsel. Tentu saja aku merasa sangat bosan.
Suatu hari, aku mendapat tawaran syuting dari sebuah casting agency. Ada proyek film Malaysia yang akan syuting di Adana, Turki, dengan honor yang cukup besar. Aku langsung menerima tawaran itu karena aku benar-benar membutuhkan uang tambahan di tengah sepinya pekerjaan.
Awalnya, agensi mengatakan syuting hanya berlangsung selama dua setengah hari. Aku berangkat Jumat siang dan berencana kembali ke Istanbul pada Minggu malam. Aku meminta izin kepada Öner Abi untuk tidak masuk kantor pada hari Jumat saja, dan akan kembali bekerja pada hari Senin.
Namun, setibanya aku di Adana, aku mendapat kabar bahwa jadwal syuting diperpanjang. Pada hari Minggu, aku menghubungi Öner Abi dan memberi tahu bahwa aku tidak bisa masuk kantor selama seminggu karena jadwal syuting berubah. Informasi ini baru aku terima setelah tiba di Adana, sehingga aku tidak bisa kembali ke Istanbul sesuai rencana.
Aku berpikir Öner Abi tidak akan marah. Lagi pula, di kantor hampir tidak ada pekerjaan karena minimnya grup tur selama musim panas. Semua persiapan untuk grup bulan berikutnya juga sudah aku selesaikan. Kalaupun gajiku dipotong karena tidak masuk selama seminggu, aku tidak akan mempermasalahkannya. Toh, aku memang tidak bekerja di kantor selama waktu itu.
Keesokan paginya, aku tidak mendapatkan respons apa pun dari Öner Abi. Pesanku hanya dibaca di WhatsApp. Tak lama kemudian, Uni Ferline meneleponku dengan nada tinggi. Dia menghardikku dan mengatakan bahwa Öner Abi marah besar karena aku izin tidak masuk kantor.
Uni Ferline kemudian mulai mencari-cari kesalahanku. Dia menuduh aku tidak bertanggung jawab terkait makanan rendang yang seharusnya diberikan kepada grup VIP miliknya. Padahal, rendang tersebut sudah aku antarkan ke restoran yang akan dikunjungi oleh grup VIP itu, dan aku juga sudah memberi tahu pemandu yang membawa tamu-tamu tersebut.
Pemandu itu bernama Murad. Dia sangat dekat dengan Uni Ferline, bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri. Entah kenapa, Murad tidak menyukaiku. Kepada Uni Ferline, dia mengatakan bahwa rendang tersebut tidak pernah diberikan. Padahal, sebenarnya dia sendiri yang lupa meminta rendang itu kepada pegawai restoran.
Sehari sebelum aku berangkat ke Adana, aku sudah datang ke restoran tersebut—seperti kurir tak dibayar—mengantarkan satu kantong besar rendang dan menyimpannya di dalam kulkas restoran. Pada hari yang sama, aku juga sudah memberi tahu Murad bahwa rendang itu sudah aku serahkan kepada pihak restoran. Namun, pada hari kedatangan tamu, Murad justru membalikkan fakta, sehingga akulah yang dimarahi Uni Ferline tanpa mengetahui kejadian sebenarnya.
Uni Ferline mengatakan aku tidak bertanggung jawab dan menyalahkanku karena tamunya kecewa tidak mendapatkan rendang. Padahal, yang lalai adalah Murad karena tidak meminta rendang tersebut kepada pegawai restoran. Aku dihardik habis-habisan dan hanya bisa mengelus dada.
Saat itu, aku sempat berusaha mencari pekerjaan baru. Namun, katanya Öner Abi masih ingin mempekerjakanku. Aku pun berpikir bahwa mencari pekerjaan baru di situasi seperti ini akan sangat merepotkan. Akhirnya aku memilih bertahan.
Ketika aku kembali ke Istanbul setelah syuting selesai, aku masuk kantor seperti biasa. Öner Abi berkata, “Cukup kali ini saja ya. Ke depannya jangan syuting lama-lama sampai meninggalkan kantor.” Aku hanya menjawab, “Iya.”
Sebulan setelah kejadian itu, aku mendapatkan tawaran kerja di sebuah perusahaan aplikasi kencan dengan gaji yang sedikit lebih tinggi dibandingkan perusahaan travel ini. Aku memberi tahu Uni Ferline mengenai tawaran tersebut. Namun, dia justru menahanku dan melarangku resign. Dia menjanjikan akan membelikan tiket pesawat pulang-pergi ke Indonesia di akhir tahun nanti.
Aku akhirnya menerima tawaran itu. Aku tidak jadi resign dan tetap bekerja di kantor travel kecil tersebut.
Hari-hari berlalu, hingga tiba bulan November 2022. Aku menagih janji Uni Ferline untuk membelikan tiket pulang ke Indonesia pada bulan Desember. Namun, dia justru memutarbalikkan fakta. Dia mengatakan bahwa tiket kembali ke Turki nanti yang akan dia belikan, sedangkan tiket pulang ke Indonesia harus aku beli sendiri.
Mendengar jawaban itu, aku hanya bisa mengelus dada. Aku merasa Uni Ferline benar-benar licik. Sebelumnya, dia menahanku agar tidak resign dengan janji tiket pulang-pergi ke Indonesia. Sekarang, dia malah mengingkari ucapannya. Aku merasa benar-benar kena scam.
Akhirnya, aku membeli tiket pulang satu arah ke Indonesia dengan uangku sendiri. Setelah tiket itu aku pesan, aku memberi tahu Uni Ferline dan menanyakan berapa lama aku boleh libur di Indonesia serta kapan dia akan membelikan tiketku kembali ke Turki. Dia hanya menjawab, “Pulang saja dulu kamu, nanti kita bahas pas sampai di Padang.”
Perasaanku tidak enak. Aku mulai bertanya-tanya, apakah dia akan berbohong dan mengingkari janjinya lagi. Jika aku harus membeli tiket kembali ke Turki dengan uang sendiri, aku jelas tidak sanggup.
Aku pun akhirnya pulang ke Indonesia. Baru dua hari aku berada di rumah, Uni Ferline menyuruhku datang ke Padang. Jarak Padang dari tempat tinggalku di Kabupaten Dharmasraya sekitar enam hingga tujuh jam perjalanan. Dia mengatakan akan mengadakan acara reuni untuk tamu-tamunya yang pernah jalan-jalan ke Turki, dan aku diwajibkan hadir.
Padahal rasa rinduku kepada keluarga belum terobati. Namun, keesokan harinya aku tetap berangkat ke Padang. Di acara itu, aku bertemu langsung dengan Uni Ferline. Aku kembali bertanya, “Uni, kapan aku bisa balik ke Turki? Akan lebih baik kalau tiket dibeli dari jauh-jauh hari supaya dapat harga murah dan aku bisa mengatur jadwal liburku di kampung.”
Namun, jawabannya kembali berputar-putar tanpa kepastian. Hal itu membuatku semakin cemas. Aku takut dia benar-benar hanya mengibul dan mengingkari janji. Jika aku harus membeli tiket sendiri, aku tidak punya cukup uang.
Keesokan harinya, aku kembali ke Dharmasraya dengan perasaan panik dan sedih. Terlalu banyak makan hati, aku akhirnya jatuh sakit. Aku demam tinggi dan batuk parah selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Sudah memasuki minggu terakhir bulan Desember, Uni Ferline masih juga belum membelikanku tiket kembali ke Turki. Kondisi tubuhku belum juga membaik. Di sela-sela aku sakit, dia terus menerorku dengan urusan pekerjaan, menanyakan file grup dan masalah kerjaannya dengan Öner Abi.
Suatu saat, aku meninggalkan ponsel di rumah karena pergi salat ke masjid. Uni Ferline meneleponku, tetapi tidak terangkat. Tak lama kemudian, dia mengirim pesan bernada mengintimidasi,
“Kamu masih mau kerja sama saya atau enggak? Kenapa kamu tidak angkat telepon?”
Aku benar-benar terkejut. Baru sekali itu aku tidak mengangkat teleponnya, tetapi dia langsung mengirim pesan yang tidak enak seperti itu. Aku tahu, jika aku membalas dengan nada keras, kemungkinan besar aku akan langsung dipecat, dan tiket ke Turki pun pasti tidak akan dibelikan. Demi mencari aman, aku mengesampingkan harga diriku dan meminta maaf, dengan alasan aku sedang pergi salat.
Pada tanggal 25 Desember, aku mengirim pesan mengucapkan Selamat Natal kepadanya karena dia beragama Katolik. Aku berharap suasana hatinya membaik. Sekalian, aku kembali menanyakan soal tiket. Namun jawabannya kembali membuatku ragu. Dia mengatakan aku harus ke Padang dulu untuk membantunya di kantor Padang, dan urusan tiket nanti akan dibahas.
Dadaku terasa panas. Sudah hampir sebulan aku berada di kampung, tetapi kepastian untuk kembali ke Turki masih juga belum ada.
Dalam kondisi sakit, aku tetap pergi ke Padang seperti yang diminta Uni Ferline. Aku membawa semua barang yang rencananya akan aku bawa kembali ke Turki. Dalam pikiranku, mungkin saja dia akan membelikan tiket secara mendadak.
Setelah tiba di Padang dan beberapa hari bekerja di kantor, akhirnya aku memberanikan diri menanyakan kejelasan mengenai tiket kepulanganku ke Turki. Pada akhirnya, dia benar-benar membelikan tiket tersebut. Dua hari setelah tiket dibooking, aku berangkat kembali ke Turki.
Begitu tiket itu dibelikan, aku segera memesan tiket ke Jakarta untuk keesokan siangnya. Perlahan, demam dan batuk yang aku derita mulai mereda karena kepastian keberangkatanku kembali ke Turki akhirnya jelas. Memang banyak drama yang harus aku lalui, tetapi semuanya berakhir dengan rasa lega.
Singkat cerita, aku kembali tiba di Turki dan bertemu lagi dengan Öner Abi. Aku kembali diminta membawa grup, dan kali ini uang amplop untuk tour leader diberikan langsung kepadaku. Jika aku diminta mengantarkan berkas atau makanan ke restoran, aku juga diberi uang jalan. Sedikit demi sedikit, Öner Abi tampaknya mulai berbenah dalam memperlakukanku sebagai manusia.
Mungkin perubahan ini terjadi karena adanya saran dari karyawan baru bernama Dilara. Dia adalah kenalan lama Öner Abi yang kemudian diminta membantu di kantor. Dilara cukup dewasa, berpengalaman di bidang travel, dan usianya jauh lebih tua dariku. Di kantor, dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri.
Aku menceritakan semua keluh kesahku selama bekerja di perusahaan travel itu kepada Dilara. Dia mengatakan bahwa secara perlahan dan halus, dia akan memberikan masukan kepada Öner Abi mengenai caranya memperlakukan karyawan.
Aku merasa senang karena Kak Dilara menjadi rekan kerjaku. Dia direkrut untuk menggantikan sebagian besar pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh Öner Abi. Sejak kehadiran Kak Dilara, Öner Abi lebih banyak duduk santai—hanya menandatangani dokumen, memberikan keputusan, dan sesekali memberi saran.
Pada awal tahun 2023, UMR Turki naik drastis dari 4.500 TL menjadi 8.500 TL. Namun, gaji pokokku hanya naik menjadi 6.000 TL. Artinya, gajiku tetap berada jauh di bawah UMR. Mungkin inilah alasan Öner Abi mulai memberiku amplop tour leader setiap kali aku pergi mendampingi tamu. Setiap perjalanan, aku bisa mendapatkan tambahan sekitar 3.000–4.000 TL.
Kehadiran Kak Dilara ternyata juga sempat menimbulkan masalah bagi Uni Ferline. Öner Abi tidak memberi tahu Ferline bahwa dia merekrut karyawan baru. Ferline melampiaskan kemarahannya kepadaku dan menyuruhku “menyelidiki” serta menilai karakter Dilara. Aku hanya menjawab bahwa sejauh ini Dilara orangnya baik-baik saja dan tidak ada masalah—dan itu memang kenyataannya.
Waktu terus berjalan, dan musim panas 2023 pun tiba. Pekerjaan semakin berkurang. Tiba-tiba, aku mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah klinik estetika tanam rambut dengan gaji yang cukup bagus.
Aku menceritakan tawaran ini kepada Dilara Abla. Dia justru menyarankanku untuk mengambil kesempatan tersebut. Menurutnya, selama setahun bekerja di travel, pekerjaanku cenderung monoton, gaji pokokku berada di bawah UMR, dan dalam beberapa bulan bahkan aku tidak mendapatkan grup sama sekali. Aku merasa saran itu masuk akal.
Akhirnya, aku memberi tahu Ferline dan Öner Abi mengenai niatku untuk resign. Mereka mengizinkanku tanpa banyak alasan—memang sudah tidak ada lagi hal yang bisa mereka gunakan untuk menahanku.
Dengan begitu, aku akhirnya lepas dari perusahaan travel yang toxic dan penuh drama ini. Selama setahun bekerja di sana, aku telah mengalami dan menyaksikan banyak hal: kekerasan, penipuan, harapan palsu, serta pemutarbalikan fakta. Semua itu menjadi pengalaman pahit yang tidak akan pernah aku lupakan.
Aku memutuskan untuk menghapus kontak Öner Abi dan Uni Ferline. Namun, aku masih menjalin hubungan baik dengan Kak Dilara. Sesekali, kami masih saling berkabar melalui media sosial.
Terjun ke Dunia Marketing di Klinik Estetika
Oke, aku masuk ke dunia kerja baru yang sebelumnya belum pernah aku jalani, sehingga aku cukup excited untuk memulainya.
Akhirnya, aku mulai bekerja di sebuah klinik estetika bernama Dr. Can Aesthetic. Letak kantornya cukup jauh dari rumahku, sekitar satu jam lebih perjalanan. Pada hari pertama bekerja, aku diajarkan bagaimana cara berbicara dengan customer untuk menarik minat mereka datang ke Turki guna melakukan operasi tanam rambut.
Aku diberikan puluhan bahkan ratusan nomor telepon orang Indonesia untuk dihubungi. Nomor-nomor tersebut ternyata diperoleh dari iklan yang dibuat dan disebarkan melalui media sosial, hingga muncul di beranda orang-orang Indonesia. Ada yang memang benar-benar berniat mendaftar, tetapi banyak juga yang tidak sengaja menekan iklan tersebut padahal sebenarnya tidak berminat. Dari pengalamanku menghubungi nomor-nomor itu, sebagian besar ternyata memang tidak tertarik atau hanya salah klik.
Sistem marketing di klinik Dr. Can ini masih kecil dan sangat manual. Aku merasa cukup kesulitan mendapatkan customer. Karena itu, setelah satu bulan bekerja dan tanpa drama apa pun—semuanya berjalan lancar—aku memutuskan untuk resign.
Tak lama kemudian, aku mendapatkan tawaran kerja di klinik estetika terbesar di Turki, yaitu Natural Clinic. Letak kantor dan kliniknya hanya sekitar 35 menit dari rumahku, sehingga jauh lebih nyaman.
Di Natural Clinic, lingkungan kerjanya sangat beragam. Banyak pasien datang dari berbagai negara, namun market utamanya adalah orang Italia. Hal ini karena seorang aktor terkenal Italia pernah melakukan perawatan gigi di Natural Clinic pada tahun sebelumnya. Treatment yang ditawarkan pun tidak hanya tanam rambut, tetapi juga perawatan gigi, bedah plastik, serta bariatrik.
Sistem kerjanya kurang lebih sama dengan klinik Dr. Can, namun kali ini aku diberikan data dalam bentuk aplikasi CRM, yang jauh lebih mempermudah pekerjaanku. Pada bulan pertama, aku belum berhasil mendapatkan pasien. Di bulan kedua, salah satu temanku yang sering membawa tamu VIP, bernama Aldi, menghubungiku. Dia mengatakan bahwa dirinya akan membawa sekelompok dokter yang ingin melihat klinik dan berencana membawa pasien untuk tanam rambut ke Natural Clinic.
Mendengar hal itu, aku merasa senang dan bersyukur karena ada peluang untuk mendapatkan pasien dari Indonesia. Aku segera menyampaikan rencana ini kepada manajer klinik, dan mereka menyambutnya dengan sangat baik.
Beberapa hari kemudian, Aldi dan para dokter tersebut datang. Mereka disambut dengan sangat ramah oleh pihak klinik, bahkan dijamu dengan makanan khas Turki. Di satu sisi aku merasa senang, tetapi di sisi lain aku juga merasa segan dan khawatir—takut jika mereka hanya datang untuk studi banding tanpa ada hasil apa pun bagi klinik, yang akhirnya akan berdampak kepadaku.
Dan kekhawatiranku ternyata benar. Setelah satu hingga dua bulan menunggu, tidak ada satu pun pasien yang dibawa oleh para dokter tersebut. Pihak klinik terus menanyakan perkembangannya kepadaku, dan aku hanya bisa menjawab bahwa aku masih menunggu kabar. Lama-kelamaan, mereka pun menghilang tanpa kabar.
Memasuki bulan ketiga bekerja, alhamdulillah aku akhirnya berhasil mendatangkan enam pasien ke klinik. Rasanya seperti “pecah telur” setelah lama menunggu hasil.
Hari demi hari aku menjalani pekerjaanku di Natural Clinic dengan cukup senang. Tidak ada drama buruk, suasananya relatif aman dan tentram. Namun, setelah berhasil mendatangkan enam pasien tersebut, aku tidak lagi mendapatkan data yang bagus. Data yang diberikan kepadaku sebagian besar adalah data orang Pakistan dan India yang tinggal di daerah pelosok dengan keterbatasan ekonomi. Aku pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa datang ke Turki untuk melakukan perawatan.
Setelah sembilan bulan bekerja di Natural Clinic—dan khususnya dalam dua bulan terakhir tanpa mendatangkan pasien—dengan berat hati pihak klinik meminta aku untuk berhenti bekerja. Di dunia sales, keluar-masuk karyawan memang hal yang biasa. Kami dituntut untuk konsisten mendatangkan customer, dan jika tidak, pemutusan kerja bisa terjadi dengan mudah.
Akhirnya, giliranku pun tiba. Namun aku tidak terlalu menyesal. Setidaknya, aku membawa banyak kenangan manis dari klinik ini.
Kerja di Perusahaan Investasi
Setelah keluar dari Natural Clinic, aku kembali mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai sales. Namun kali ini di sebuah perusahaan investasi. Tugasku adalah menelepon klien dan mengajak mereka untuk berinvestasi. Ya ampun, masih juga dapat pekerjaan sales, padahal sebelumnya aku sudah punya pengalaman dan hasilnya tidak bagus—bahkan berakhir dengan pemecatan. Tapi ya sudahlah, aku coba saja. Sayangnya, hasilnya sama. Setelah satu bulan bekerja, aku tidak mendapatkan satu klien pun, dan akhirnya aku dikeluarkan lagi.
Tak lama setelah itu, aku kembali mendaftar kerja di klinik estetika. Beberapa hari setelah keluar dari perusahaan investasi tersebut, aku langsung mulai bekerja lagi sebagai sales di klinik estetika. Sebenarnya aku bisa saja melamar pekerjaan di bidang lain yang tidak berhubungan dengan sales, tapi mungkin prosesnya akan memakan waktu. Aku ingin cepat mendapatkan pekerjaan baru karena tidak mau terlalu lama menganggur dan aku butuh penghasilan yang stabil. Akhirnya, aku memaksa diri untuk kembali bekerja sebagai sales di klinik estetika.
Nama kliniknya adalah Prof Clinic. Klinik “gaib” yang kantornya menumpang di kantor gayrimenkul (real estate), dan kliniknya sendiri menumpang di Natural Clinic. Aneh tapi nyata. Rasanya seperti downgrade, tapi aku sudah terlanjur masuk. Lokasi kantornya berada di dekat kuburan dan dikelilingi anjing. Pernah suatu pagi, saat aku hendak ke kantor dan melewati area kuburan, aku dikejar anjing hingga terjatuh dan kakiku luka-luka.
Sebulan bekerja di sana, aku berhasil mendapatkan satu pasien untuk operasi rhinoplasty. Pasien ini bukan berasal dari data yang diberikan pihak klinik, melainkan dari rekomendasi kenalanku. Tapi tidak apa-apa, yang penting di bulan pertama aku berhasil “pecah telur”.
Namun, di klinik gaib ini cukup banyak drama. Pemiliknya adalah imigran asal Suriah. Orangnya angkuh dan sombong. Pernah suatu hari dia memukul meja karena marah kepadaku, karena menurutnya aku salah menggunakan aplikasi CRM Bitrix—padahal aplikasi itu juga pernah aku gunakan saat bekerja di Natural Clinic. Aku dibilang tolol dan kata-kata kasar lainnya. Aku tidak terima diperlakukan seperti itu, dan keesokan harinya aku memutuskan untuk resign.
Memang terdengar sangat Gen Z—sedikit-sedikit resign—tapi begitulah kenyataannya. Semakin aku merenungkan semua pengalaman kerja yang sudah-sudah, aku mulai sadar bahwa aku memang tidak cocok bekerja di bawah tekanan.
Aku tidak cocok menjadi sales. Aku tidak suka banyak berbicara dan basa-basi dengan orang.
Sehari setelah aku resign dari Prof Clinic, aku kembali mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai agen di perusahaan investasi lain. Namun kali ini aku harus mengikuti training dan simulasi terlebih dahulu. Singkat cerita, aku tidak lolos training dan simulasi tersebut. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku memang tidak pandai membujuk orang atau basa-basi. Kalau basa-basi saja tidak bisa, bagaimana mau closing? Akhirnya, aku dinyatakan tidak lolos.
Setelah gagal di simulasi itu, aku mendapatkan tawaran kerja lain yang aku temukan dari laman Facebook. Lagi dan lagi, menjadi sales di klinik lagi. Namun kali ini, lokasi kantornya hanya beberapa menit berjalan kaki dari tempat tinggalku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerima tawaran tersebut daripada harus menganggur. Sayangnya, selama satu bulan bekerja aku hanya mendapatkan satu pasien. Padahal, karena aku sudah punya pengalaman sebagai sales di klinik sebelumnya, manajer memberiku target yang lebih tinggi.
Aku merasa tidak mampu mengejar target tersebut, dan akhirnya aku resign lagi. Hahaha.
Tapi tunggu dulu. Dua hari setelah resign, aku mendapatkan pekerjaan di bagian administrasi quality control di salah satu perusahaan investasi. Kali ini aku tidak perlu menjadi sales dan tidak perlu banyak berbicara. Aku hanya fokus mengerjakan laporan dan data di komputer. Dan syukurnya, tanpa drama buruk dan tanpa pengalaman pahit, aku sudah satu tahun bekerja di sini. Bahkan manajer perusahaan ini memberiku cuti selama satu bulan untuk pulang ke Indonesia, yang membuat energiku terisi kembali dengan sangat baik.
Jadi begitulah ceritanya. Cerita hidupku tetap saja berlanjut—masalah, halangan, dan rintangan pasti selalu ada.
Pasti ada yang bertanya, “Kenapa tidak lanjut S2 saja, Natul?”
Sebenarnya keinginan itu ada, tapi aku tidak ingin melanjutkan S2 tanpa beasiswa. Sementara IPK-ku kurang dari 3, jadi rasanya cukup sulit untuk mendapatkan beasiswa. Lagipula, saat ini aku ingin fokus mencari uang karena ada rencana yang belum bisa aku ceritakan di tulisan ini. Mungkin di kemudian hari, ketika aku sudah lebih stabil secara finansial dan memiliki waktu yang cukup, aku bisa melanjutkan S2.
Keinginan untuk bekerja ke Eropa tentu saja ada. Aku sudah mencoba melamar pekerjaan melalui beberapa platform seperti LinkedIn, tetapi sejauh ini belum ada rezekinya. Aku tidak tahu, mungkin untuk saat ini melanjutkan hidup dan mencari rezeki di Turki adalah pilihan terbaik bagiku. Namun, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti aku bisa bekerja di negara Eropa. Pengen sih bisa dapat kerja online di perusahaan Eropa, tapi sambil tinggal di kampung halaman. Hahaha. Enak nggak sih hidup seperti itu? Jujur saja, tinggal di Indonesia itu menyenangkan. Sembako murah, banyak tempat yang indah, dan selama punya uang yang cukup, insya Allah hidup bisa terasa nyaman.
Lima tahun terakhir ini adalah perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Terima kasih untuk diriku sendiri karena sudah mampu bertahan sejauh ini. Aku sadar, jika dibandingkan dengan pengalaman hidup orang lain, mungkin ceritaku tidak terasa terlalu berat. Pasti ada banyak orang di luar sana yang menghadapi ujian jauh lebih besar. Namun dengan menulis semua ini, aku merasa lebih lega karena bisa mengenang kembali perjalanan hidup yang berliku. Aku bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter, menghadapi beragam persoalan—dari yang sederhana hingga yang paling rumit. Semua itu, tak lain dan tak bukan, adalah proses pendewasaan diri.
Aku yakin kisah hidupku tidak akan berhenti sampai di sini. Masih akan ada banyak cerita tentang halangan, rintangan, dan juga kebahagiaan yang menantiku di masa depan. Yang pasti, aku merasa bangga pada diriku sendiri karena mampu bertahan dan tetap menemukan cara untuk bahagia hingga detik ini. Semoga proses hidupku selalu berjalan dengan lancar. Memang tidak semua berjalan sesuai harapan, tapi aku percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Semoga aku selalu diberi kesehatan, selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, dan diberi kekuatan untuk menghadapi persoalan hidup, apa pun bentuknya.


Komentar
Posting Komentar